Kamis, 05 November 2015

Rengginang Sambi Gede
Penjual Rengginang

Rengginang Sambi Gede

MANDIRI NEWS | Kerupuk yang satu ini dikenal dengan nama Rengginang. Jajanan “desa” Tempoe Doloe yang sampai sekarang masih banyak penyukanya. Kerupuk berbahan baku beras ketan berbentuk bulat kecil dengan rasa gurih ini merupakan jajanan rakyat yang mudah didapat, apalagi saat Hari Raya Lebaran hampir setiap rumah warga masyarakat pedesaan menyuguhkan rengginang sebagai pelenggkap jajanan lebaran.
Di Kab. Malang sentra pembuatan rengginang ada di Desa Sambi Gede Kecamatan Sumberpucung. Di Desa ini hampir keseluruhan warganya memproduksi Rengginang, disetiap halaman rumah warga pasti terlihat rengginang mentah yang sedang dijemur disesek (anyaman Bambu berukuran 2x1meter yang digunakan untuk menjemur Rengginang).
Adalah Bu Yatik yang mengawali membuat kerupuk Rengginang di Desa Sambi Gede. Perempuan kelahiran tahun 1959 ini ketika ditemui Mandirinews.com dengan semangat menceriterakan ihwal sentra industri Rengginang di Sambi Gede.
Semula Bu Yatik mengaku hanya menjadi penjual beras di pasar Senggreng Pucung, setiap hari berjalan dari rumah ke Pasar untuk berjualan sampai tahun 1993, kemudian mencoba membuat Rengginang dan dipasarkan sendiri ke toko-toko dan di Pasar ngebruk.
Ternyata usahanya terus berkembang yang kemudian banyak di ikuti oleh warga Sambi Gede lainya dan jadilah Desa Sambi Gede sebagai sentra industri kerupuk Rengginang. “ Meskipun saya orang yang pertama membuat rengginang di desa ini, namun saya masih kalah dengan yang baru-baru, karena saya memproduksi Rengginang ini sendirian tidak ada yang membantu, ” Kata Yatik.
Saat disinggung tentang bantuan dari dinas terkait Bu Yatik menjelaskan bahwa bantuan hanya datang ketika dulu ada koperasi Kosendra. Akan tetapi Koperasi Kosendra tersebut bubar ditahun 2000-an dan tidak mengetahui kelanjutan bantuan tersebut. Dulu ada bantuan Oven ke Koperasi dengan kapastias 1 kwintal untuk mengeringkan Rengginang disaat cuaca hujan, tapi setelah bubar sudah gak tahu kemana barang itu.
Setelah koperasi bubar pengrajin Rengginang desa Sambi Gede, tidak teroganisir lagi, mereka lebih memilih memasarkan produknya sendiri-sendiri. “ Orang sini kalau jual ya sendiri-sendiri tidak ada yang berkelompok, itu terjadi setelah Koperasi bubar, awalnya saya juga mempunyai kelompok namun sekarang sudah tidak lagi, ” Kata Yatik.
Sebagaimana di akui Waji Purnomo (51) salah satu perajin Rengginang warga Desa Sambi Gede yang menggeluti usaha kerajinan Rengginang sejak tahun 2002. Bahwa para pengrajin Rengginang di Sambi Gede tidak ada kelomok, semua berjalan sendiri-sendiri.
Setiap warga sudah memiliki jaringan sendiri-sendiri. “ Saya pasarkan produk saya ke Pakis dan Tumpang dengan harga Rp.8000 per pak. Warga lain juga punya pelanggan sendiri-sendiri, dan disini tidak ada standar harga dalam memasarkan produk ini” Kata Waji menjelaskan
Awalnya Waji mengaku hanya membuat Rengginang hanya untuk kepentingan pribadi, namun setelah banyak kenalan yang merasakan gurihnya rengginang buatanya, banyak yang memesan. “ Ya sekalian dijadikan sebagai usaha untuk menambah penghasilan, “ kata Waji.
Waji mengaku dalam seminggu bisa menghabiskan 5-7 kwintal beras ketan untuk memproduksi Rengginang dengan dua rasa yaitu rasa Bawang dan Terasi. Setiap satu kwintal beras ketan bisa menghasilkan 210 pak Rengginang dengan isi 30 biji / pak.
Waji melanjutkan bahwa meskipun produk Rengginangnya sudah di kenal banyak orang, namun Bu Yatik lah sebagai pionir pembuat Rengginang di Desa ini. “ Saya sangat berterimakasih kepada Bu Yatik yang memulai usaha ini, dan kini Desa Sambi Gede dikenal luas karena produk Rengginang, demikian juga para pengrajin Rengginang yang lain merasa berhutang budi pada Bu Yatik, ” kata Waji mengungkapkan. (nasai)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar